Hasil Survei Dinamika Pilkada Sulawesi Selatan dan Potret Politik Disnasti

INDONESIASATU.CO.ID:

, JAKARTA ; Tahapan pilkada serentak 2018 sudah memasuki masa kampanye. Dinamika pertarungan pilkada kali ini  terasa lebih panas dari pilkada yang lain. Hal itu disebabkan konteks pilkada 2018 berdekatan waktunya dengan pelaksanaan pemilu 2019. Karenanya, banyak pihak yang menilai dinamika pilkada 2018 memiliki korelasi dengan agenda pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang dilaksanakan serentak di tahun 2019. 

Dalam kajian geo politik nasional, wilayah paling strategis di kepulauan Sulawesi adalah Provinsi Sulawesi Selatan karena selain memiliki populasi pemilih terbesar di kepulauan Sulawesi, provinsi ini menjadi sentral pergerakan politik di wilayah timur Indonesia yang berpangaruh dalam konstalasi politik nasional. Oleh sebab itu, menarik untuk memotret dinamika Pilkada Sulawesi Selatan. Untuk itulah Indo Survei & Strategy (ISS) akan menyampaikan hasil survei Pilkada Sulawesi Selatan yang terbaru. Survei ini memotret peta kekuatan kandidat (pasangan cagub).

Pasangan mana yang paling berpeluang memenangi pilkada. Selain itu, peta kekuatan dukungan dari berbagai aspek demografi dan berbagai isu yang mempengaruhi pilihan sangat menarik untuk disampaikan ke publik. Potret dinasti politik yang terjadi di sejumlah daerah seperti di Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan,  Kota Batu Jawa Timur, Kota Kendari Sulawesi Tenggara.

Untuk itulah Indo Survei & Strategy (ISS) mengadakan diskusi dan konferensi pers dengan tema "HASIL SURVEI DINAMIKA PILKADA SULAWESI SELATAN DAN POTRET POLITIK DINASTI" yang akan diselenggarakan di Restoran Bumbu Desa, Jl. Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 4 Maret 2018. Dengan para pembicara, seperti : Karyono Wibowo (Direktur Strategy Indo Survey & Strategy/ISS), DR. Andi Lukman Irwan, M.Si (Akademisi Universitas Hasanudin Makassar), Uchok Sky Khadafi (Direktur Center for Budget Analysis/CBA).

Tingkat pengenalan kandidat pilgub Sumatera Selatan belum ada yang mencapai 80 %. Tingkat pengenalan kandidat paling tinggi adalah Ichsan Yasln Limpo (IYL) sebesar 76.7%. Menyusul di posrsi kedua adaiah Aziz Kahar Mudzakar (AKM) 66.6%, Posisi ketiga Nurdin Halid (NH) 61.8%, menyusul Andi Mudzakar (AM) 50,4%Nurdin Abduliah (NA) 50,3%, Agus Arfin Numang (AAN) 50.0% Andi Sudlrman Sulaeman (ASS) 20.3% dan Tanribali Lamo (TL) 18.3%. 


Data survei ini menunjukkan bahwa kekuatan kandidat masih dalam posisi berimbang, terutama di tiga pasangan bersaing ketat yaitu pasangan IYL AM yang memperoleh dukungan 24.3%, lalu di posisi kedua pasangan NH- AKM 20.1% bersaing dengan pasangan NA- ASS 18.0%. Sedangkan pasangan AAN -TL agak tertinggal di posisi 8.9%. Sementara yang beium memutuskan/Tidak Tahu/Tldak Jawab masih cukup tmggi sebesar 28.9%. 


Ketatnya persaingan kandidat dalam pilgub Sulsel dapat dilihat data elektabilitas pasangan calon gubernur baik dalam penanyaan tertutup maupun pertanyaan terbuka atau top of mind yang menunjukkan konsistensi antara elektabilitas pasangan calon dengan elektabilitas cagub secara personal. Dalam pertanyaan terbuka atau spontan, posisi eiektabilitas cagub yang paling dominan ada 3 nama yaitu Nurdin Abduliah dengan 12.6%, Nurdin Halid 10.8%, ichsan Yasin Limpo 10.5%. Agus Anfin Numang 3.5%, Sahrul Yasin Limpo 2.6% dan 57.4% menjawab rahasia/belum memutuskan pillhan/tidak tahu/tidk jawab. Dalam pertanyaan terbuka, ketiga nama tampak bersaing 


Sementara untuk posisi calon wakil gubernur sosok Aziz Kahar Mudzakar yang menjadi pasangan Nurdin Halid ini menempati urutan teratas dengan elektabilitas 24.4%, Sementara Andi Mudzakar dengan Andi Sudirman Sulaeman bersaing masing-masing 14.1% dan 11.6%. Sedangkan Tanribali Lamo hanya 4.8%. Pemilih yang menjawab rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab masih tinggi yaitu 45.1%. 


Survei ini juga memotret sejumlah isu Iokal diantaranya adaIah isu polrtik dinasti yang tengah menghangat kembali.Dalam temuan survei ini terkait dengan isu dinasti politik, hanya 20.1% yang pernah mendengar politik dtnasti di Sulawesi Selatan. Dari 20.1% yang pernah mendengar, 63.9% memahami makna politik dinasti. Dari 20.1% yang pernah mendengar ada 77.7% yang kurang menginginkan/tidak menginginkan politik dinasti berkuasa. Data ini menunjukkan indikator adanya potensir penolakan terhadap kandidat yang memiliki hubungan keluarga dengan dinasti. Semakin tinggi masyarakat mendengar/mengetahui dan memahami sisi negatif politik dmasti semakin tinggi pula penolakan terhadap polltik dinasti. Hal ini perlu menjadi ”warning" bagi lchsan Yasin Limpo yang merupakan keluarga dinasti Yasin Limpo. lni bisa menjadi kelemahan bagi Ichsan Yasin Limpo. Peringatan ini berlaku juga bagi kandidat dimanapun berada. Jika ada gerakan penolakan terhadap politik dinasti secara massif dan terstruktut dan sistematis yang mampu membangun kesadaran masyarakat maka gerakan tersebut akan efektif untuk menurunkan (mendowngrade) elektabilitasnya. 


Namun, dalam sejumlah fakta empirik, justru kandidat yang berasa| dari keIuarga dinasti kerap memenangi pilkada di sejumlah daerah, meskipun dari seiumlah hasil survei pada umumnya penolakan terhadap kekuasaan dinasti cenderung tinggi jika dibandingkan yang menerima. Penyebabnya antara lain adaIah karena kurangnya informasi dan pemahaman masyarakat tentang sisi negatif politik dinasti. Selain itu ada faktor Iain di luar masalah politik dinasti. 


Pengambilan data survei ini dilakukan pada 19-24 Februari 2018. Survei menggunakan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden 800, margin of error 3.5%. Wawancara dilakukan secara tatap muka Iangsung dengan menggunakan kuesioner, menggunakan sistem quality control yang ketat. (Rika)

 

 

 





 

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita